aku pernah mengibaratkanmu sebagai kepanjangan tangan malaikat yang sebenarnya tak jelas ada ataupun tidak
melihatmu membuat hangat
aku sering menyamakanmu seperti udara yang berada di titik jenuh dan tak mampu menampung uap air sehingga sebagian menjadi titik basah
merasakanmu membuat sejuk
ungkapan kekagumanku seperti itu
benarbenar rumit
serumit diriku yang hanya sanggup berucap aku cinta padamu padahal sebenarnya sudah kusiapkan rangkaian sajak penuh harap
ungkapan kekagumanku seperti itu
benarbenar rumit
bak senja yang sudah kubungkus dan kusimpan rapi di saku kemejaku kemudian tak kugenggamkan padamu, aku tidak lupa
aku hanya terlalu menikmati dirimu
sehingga sosokmu tak henti kupuja
jangan suruh aku berhenti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar