tak pernah menampilkan kesedihan. wajahnya terlahir sedih. atau mungkin bukan wajah sedih. hanya sehebat apapun menyembunyikan kesedihan, ia tak akan sirna.
masa mudanya penuh dengan kumis dan brewok tebal. setebal tembok pertahanannya ketika semua menyerang dengan buas. beberapa bagian tubuhnya seringkali ditusuk memakai lidah para pembencinya. tapi sudah aku jelaskan di awal, tembok pertahanannya tebal.
tatapan matanya tajam. mata elang tak ada apa-apanya. tajam tapi tak kejam. dan ia tak pernah terpejam. cukup kontradiktif dengan wajahnya. ia menjelaskan bahwa kadang seseorang harus pandai berpura-pura. dan aku memutar otak keras-keras.
pernah suatu saat seseorang bertanya kepadanya perihal mengapa ia tak pernah tidur. ia hanya menjawab dengan senyum sederhana seakan menyiratkan bahwa dunia bukan tempat untuk beristirahat.
pernah suatu ketika telapak tangannya berlubang tertusuk pipa saluran air. sejurus kemudian ia mengambil kunci mobil dan melarikan dirinya sendiri ke rumah sakit. dokter takjub, darah malu sendiri, aku yang menangis.
ia seperti itu, baginya kesedihan dan kesakitan adalah hal yang pasti. mengapa harus dirayakan? ia lebih memilih beraksi daripada mengurung dirinya dalam ketidakjelasan.
ia adalah pria paling bijaksana. baginya daripada bersengketa, lebih baik kalah. benar-benar kalah. telak. hingga semua pergi. tapi ia tahu pasti, Ia tak akan meninggalkannya.
dan jangan tanyakan seberapa istimewa masakannya. bila masa mudanya sudah ada reality show masak memasak, aku yakin ia menjuarainya. sudah paham kan mengapa penjual nasi goreng mayoritas lelaki?
sampai disini aku rasa kamu sudah paham betapa spesialnya ia. aku hanya serumah dengannya sampai aku lulus sekolah dasar, tapi meski sebatas itu ia tak akan henti aku puja.
selamat beristirahat lelaki tangguh.
bapakku.