terlalu dini menyebutmu rumah
tapi dari daun pintumu yang membentuk titik dua tutup kurung
kamu adalah rumah
atau jika terlalu hiperbola
sebut saja ramah
kemarin aku melihatmu dari pekarangan
iya, jauh sekali
makanya kadang aku pura-pura menyiram tanaman
bunga, padi yang jenuh menguning, sampai pagar kokoh milikmu
dan ya, aku tahu
pintumu masih tertutup
rapat hingga angin pun tak bisa lewat
persis seperti jendela ruang tengah dengan gorden cantik namun terkunci rapi
yang sesekali memantulkan pelangi
bola matamu
ribuan kali aku bertanya dalam hati
apakah ia bisa diam saja
sembari membohongi diri
atau mungkin aku tak dapat masuk
atau aku pura-pura saja sibuk
atau lebih baik mengungkap
dengan risiko semuanya menguap
sudahlah, aku akan selalu melihatmu dari jauh
berpura-pura menganggap daun pintu titik dua tutup kurung tak ada
membangun pagar seperti milik orang kaya
dan pada akhirnya kamu hanya sekadar tetangga