"maaf, aku tidak dapat menyelamatkanmu. di universeku, aku sedang tenggelam lebih dalam daripada kamu."
hanya kalimat panjang itu yang mampu aku katakan padamu. tidak sekali, tidak dua kali, tidak tiga kali. tapi tiap kamu meminta pertolongan.
bukannya apa. aku takut ketika berusaha menyelamatkanmu, aku makin tenggelam. aku juga sangat tidak yakin bahwa kamu bisa selamat saat melihat goresan-goresan di balik kemejamu, lebih tepatnya di hati, yang merah membara.
ketika aku sarankan orang pintar, kamu bilang aku yang paling pintar. dari situ saja aku sudah yakin kamu tak terselamatkan. sejak lima belas tahun yang lalu kamu tahu aku tidak bisa berenang, apalagi menyelam. kamu yang tiap tahun pergi ke bermacam laut saja minta diselamatkan. aku?
aku cerita sedikit disini.
di universeku, aku tenggelam di lautan yang dalamnya sedalam palung mariana. iya aku membawa oksigen tapi tak seberapa. oksigen yang harus aku tebus sebulan sekali. kalau aku tidak punya uang, ya aku terpaksa menahan nafas sambil komat-kamit agar tidak melepaskan tanganku dari karang yang menahan.
dan kamu bilang, aku yang lebih dulu tenggelam, dalam, adalah spesies sempurna yang bisa mengajarimu ilmu bertahan di dasar laut. tidak. aku katakan lagi. tidak. laut kita berbeda kawan. mungkin lautmu adalah laut mati, laut merah, laut jawa. entah. yang jelas, laut kita beda. jadi aku tidak tahu karakter laut yang memenjarakanmu seperti apa.
kamu juga bilang bagaimana caranya aku bisa bertahan tenggelam sejauh ini. sayangnya ketika aku membuka mulut untuk berucap, kamu sudah menghabiskan oksigenmu sendiri. kemudian kita masing-masing tenggelam dengan tragisnya. sendiri-sendiri. sendiri-sendiri. sendiri-sendiri.
untung saja, aku masih punya rasa sedikit peduli. kadang aku seka tubuhmu dengan handuk yang selalu aku siapkan di samping perahumu. kamu tahu kan, itu berarti aku berenang ke atas, menghindari terumbu karang hingga ikan-ikan ganas yang siap menerkam. semoga kamu paham.
tenang, satu jam yang lalu aku tuliskan surat khusus buatmu. masih aku selipkan di balik kemeja hari sabtuku. isinya begini:
hai,
mungkin ini kata-kata terakhirku
masing-masing dari kita harus bisa bertahan sendiri. masing-masing dari kita berpegangan tangan dan kaki sambil menunggu mati. aku tidak bohong, aku hanya tinggal menunggu mati.
kecuali bila sebentar lagi ada keajaiban datang yang membuat aku bisa berdiri. keajaiban yang bisa menyelamatkanku dan pergi dari dasar laut ini.
aku sudah berdoa, aku juga sudah pasrah. tapi yang aku yakini adalah akan tiba waktunya laut ini akan bertukar tempat dengan daratan di sana. semoga. aamiin.
semoga kamu tidak menyobek suratku. eh, tidak apa kalau cuma robekan besar. sekian.