sesaat setelah bapak meninggal pada tahun 2020, saya menulis tentang bapak. tulisan yang mewujudkan sedikit saja tentang bapak. selain dada sesak, bapak tak lama bersamaku. jadi ya tak banyak yang bisa saya sampaikan. bapak lebih memilih hidup damai sendirian tanpaku dan mbak.
saya sama sekali tak menyalahkannya. karena saya tahu di dadanya sudah tersimpan belati, parang, tombak, dan berbagai benda tajam lainnya yang sudah menusuk, menebas, dan melukainya sejak bertahun-tahun lamanya. beliau melepaskannya satu persatu, perlahan, gamang, berurai. tak sebentar, menyakitkan, penuh nanah, tetap sabar.