sesaat setelah bapak meninggal pada tahun 2020, saya menulis tentang bapak. tulisan yang mewujudkan sedikit saja tentang bapak. selain dada sesak, bapak tak lama bersamaku. jadi ya tak banyak yang bisa saya sampaikan. bapak lebih memilih hidup damai sendirian tanpaku dan mbak.
saya sama sekali tak menyalahkannya. karena saya tahu di dadanya sudah tersimpan belati, parang, tombak, dan berbagai benda tajam lainnya yang sudah menusuk, menebas, dan melukainya sejak bertahun-tahun lamanya. beliau melepaskannya satu persatu, perlahan, gamang, berurai. tak sebentar, menyakitkan, penuh nanah, tetap sabar.
saya mengaku dosa. saya mengaku dosa karena selama bapak berusaha melepaskan benda-benda itu, saya tak pernah sekalipun berada di sampingnya. di otak sudah tertanam propaganda, konspirasi, atau entah apa itu namanya yang membuat kami jauh. yap, sejauh-jauhnya. yang jelas hatiku tiada.
maka saya tulis satu lagi tentang bapak.
meski bukan si paling kesayangannya, saya tahu beliau sayang kepada anak-anaknya. termasuk saya. maka:
saya ingat betul bagaimana bapak dengan penuh wibawa dan kharisma mengajarkan fisika ke murid-muridnya. coba tanyakan mantan-mantan muridnya. beliau humble, pintar, dan mengayomi.
saya ingat betul bagaimana bapak bergaul dengan rekan-rekan sejawatnya. friendly, charming, smiling. dalam arti positif.
saya ingat betul bagaimana bapak menjalin silaturahmi dengan saudara-saudaranya yang jumlahnya tak terhingga. utang, barang, siksaan. diterimanya.
saya ingat betul bagaimana bapak bersiul dan bersenandung ketika kami sekeluarga melintasi piket nol saat malam lebaran. beliau tampak melepas beban, nyaman, dan menyenangkan.
saya ingat betul bagaimana bapak menyantap dengan lahap makanan favoritnya. durian, jeroan, santan-santanan. penuh dengan binar kenikmatan.
saya ingat betul foto bapak saat masih belia. perpaduan rudi salam, roy marten, dan graham knight. aku tebak beliau adalah idola pada zamannya.
dan saya ingat betul bagaimana bapak ketika dipanggil guru BK ketika saya membolos hampir sebulan. saya hampir dikeluarkan tetapi tetap dibela habis-habisan.
melalui tulisan ini saya hanya ingin meyakinkan diri untuk melepas teori-teori yang menyudutkan bapak ketika saya remaja. teori-teori yang membuat saya jauh dari beliau. teori-teori yang levelnya melebihi teori darwin.
oh iya, pernah suatu ketika saya duduk di bangku SMP, bapak menanyakan siapa fisikawan asal italia kepada seisi kelas. saya mengacungkan jari telunjuk dan menjawab: galileo galilei, bapak fisikawan modern, astronom, dan filsuf kelahiran pisa. seketika bapak menganggukkan kepala sambil tersenyum memberi jempol tangan kanannya. saya bahagia, bapak bangga, teman-teman kelas tak percaya.
tak apa. yang penting bapak pernah bangga memiliki saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar