Senin, 27 Desember 2021

sebab-sebab kita bersama

bila nanti waktu bersua
akan aku utarakan
sebab-sebab kita bersama

bukan selatan
bukan seperti jantung pisang
tapi berombak
belarak menyekat jarak

pertama:
dentuman keras menyeruak dada
kedua:
bulan sabit berwarna jingga
ketiga:
pasrah

keempat dan seterusnya
giliranmu yang menentukan
sebab-sebab kita bersama
sebab aku tak kuasa
dilirik pencabut nyawa
sebab aku tak bisa
memutar otak 
melukai simpul syaraf
bekas kalxetin bermuara 

dan sebab-sebab kita bersama
sejatinya hanya peluk yang memaksamu 
melebarkan jarak
pada raungan jerit ifrit
yang selesai dengan sayatan di paha

perih
memang
tapi
menang

tenang
sebab-sebab kita bersama
sepertinya berujung di pemakaman

Kamis, 25 November 2021

fase depresi

selamat datang kegelisahan
silakan duduk sopan di sel-sel otak
mereka sudah menunggu
dan tahu kapan waktumu tiba

aku sudah siap
si pemilik tubuh ini telah menyiapkan segalanya
pertahanan, kenyamanan, hingga halusinasi delusi

kamu tak boleh tinggal
aku sudah muak
meski aku menerimamu apa adanya
tolong segera pergi
kalxetinku sudah tak mampu membunuhmu lagi

fase depresi
skizoafektif
bipolar 
yang aku tak pernah bangga menyandangnya

babi kalian semua

Jumat, 28 Mei 2021

pelataran

selamat datang
akhirnya sampai di pelataran
silakan menikmati pemandangan asri
dan prasasti bongkahan hati

hati yang tidak hati hati
hati yang tahu konsekuensi
tapi tetap saja menyiksa diri
hatiku
hatiku
hatiku

hati hati

sebelum melanjutkan perjalanan
mohon ingat dengan perlahan
bahwa segala yang kamu lakukan di pelataran
akibatnya akan jadi kenyataan

kesempatan balik arah masih ada
jangan sampai ketika betah
kuku tajammu menancap di antah berantah
aku tak suka
hatimu
hatimu
hatimu

hati hati

Minggu, 04 April 2021

satu

  mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia

- Dee Lestari, Rectoverso 


maka aku coba memahami. mungkin ada kalanya nanti kamu melihatku kelelahan. bukan, aku mencoba memahami energi cinta.
mungkin ada kalanya nanti kamu melihatku banyak diam. bukan, aku selangkah lebih memahami energi cinta.
mungkin ada kalanya nanti kamu melihatku seperti tak peduli. bukan, aku beberapa langkah memahami energi cinta.

aku tak peduli, entah tiap hari-hariku yang aku tulis khusus untukmu ini kamu resapi atau tidak. bagiku yang menaruh hatiku di tiap jengkal pembuluh, keteguhan hati untuk tak henti menulismu sudah lebih dari cukup. aku selalu membaca berulang mulai dari hari pertama. aku selalu mengingatmu karena itu menyenangkan.

lebih dari cukup bukan berarti hanya sampai disini

nanti kita bertemu. jujur jika boleh memilih, aku urungkan rencana itu. semenjak subuh hingga sekarang, debar dadaku tak karuan. sabar hatiku tak beraturan. kamu tahu rasanya? aku pastikan kamu tidak tahu.

tapi aku ingin bertemu supaya aku bisa pastikan warna bola matamu. supaya aku bisa pastikan seperti apa sebenarnya senyum yang senantiasa aku dengar. supaya aku bisa menatapmu dalam-dalam.

tapi aku menyerah. aku tak bisa. aku harus lebih banyak belajar lagi bab ini. ketika menaruh perasaan harusnya menatap. harusnya berucap. harusnya lekat. tapi aku kebalikan dari semuanya saat didekatmu. aku sedang menerka.

tapi mungkin itu adalah sebagian cara hati bekerja dalam memahami energi cinta. mungkin hati tidak rela aku meledakkannya sia-sia, meski sekarang pun mungkin menurutmu aku sudah meledak-ledak. bukan. aku hanya ekspresif melalui kata.

nanti siang ketika bertemu, aku akan berada di belakangmu. aku akan melihat punggungmu yang siapa tahu dengan itu aku bisa menembus isi hatimu. jangan berbalik kalau tak ingin membuatku jatuh. terus lah berjalan karena aku akan menjaga keselamatanmu dari belakang

Rabu, 31 Maret 2021

lelaki yang melihat dari jauh

terlalu dini menyebutmu rumah
tapi dari daun pintumu yang membentuk titik dua tutup kurung
kamu adalah rumah
atau jika terlalu hiperbola
sebut saja ramah

kemarin aku melihatmu dari pekarangan
iya, jauh sekali
makanya kadang aku pura-pura menyiram tanaman
bunga, padi yang jenuh menguning, sampai pagar kokoh milikmu

dan ya, aku tahu
pintumu masih tertutup
rapat hingga angin pun tak bisa lewat
persis seperti jendela ruang tengah dengan gorden cantik namun terkunci rapi
yang sesekali memantulkan pelangi
bola matamu

ribuan kali aku bertanya dalam hati
apakah ia bisa diam saja
sembari membohongi diri

atau mungkin aku tak dapat masuk
atau aku pura-pura saja sibuk
atau lebih baik mengungkap
dengan risiko semuanya menguap

sudahlah, aku akan selalu melihatmu dari jauh
berpura-pura menganggap daun pintu titik dua tutup kurung tak ada
membangun pagar seperti milik orang kaya
dan pada akhirnya kamu hanya sekadar tetangga