namun ketika hujan datang, kamu malah menghindar
maumu apa?
pura-pura cinta?
kau jawab tidak
katamu benar-benar cinta
tapi cukup dari jauh
kamu tak mau basah kuyub sendirian
pintar
sedangkan ia sang pemuja senja
merelakan seluruh hidupnya
menjadi budak gengsi harga mati
lambungnya limbung
harinya palsu kata puitisnya merancu
mengatasnamakan elegi masa kini
memusuhi tuhannya sendiri
padahal neraka menunggu
pilihan
aku mengagumi dini hari
di saat tertentu
saat mata tak kunjung lelah
dan otak seperti menggebu
sepi itu anugerah bagi pemilik otak yang dihinggapi suara aneh
karena dengan itu bisa bercakap lugu
tanpa takut dihakimi rindu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar