apakah kamu bahagia?
itu bukan pertanyaan yang butuh penjelasan
bahagia tidak perlu dijelaskan. bahagia adalah kamu yang merasakan.
tapi saya pernah bertemu dengan seseorang yang ngalor ngidul menjelaskan bahwa ia bahagia, iya, tidak apa.
tapi menurut saya, semakin ia menjelaskan bahwa ia bahagia dengan detail maka semakin ia menutupi kekecewaan dan kesedihan yang ia rasakan sebenarnya.
kalimat pertamanya adalah: saya sulit untuk pura-pura bahagia.
dari kalimatnya saja saya sudah yakin ada yang ia tutupi. kecewa, amarah, kekesalan. apakagi ketika sejurus kemudian ia menjabarkan kenapa ia tidak perlu berkecil hati. hati saya semakin tersenyum miris. orang ini benar-benar tidak bahagia. saat itu.
saya merasakan penolakan dari dalam dirinya yang ia bungkus dengan toxic positivity. pertama ia menanamkan di otaknya, bagaimanapun ia harus menerima dengan senang hati. kedua oraknya melawan dan berkata aku tidak suka. ketiga ia membungkam isi otaknya dengan sugesti yang ia harap berhasil.
tapi bagaimanapun ini hanyalah opini saya. tapi seandainya ia mau bercerita, saya pastikan akan mendengar dengan seksama. bukan sok apa. semata karena saya pernah berada di posisinya.
au revoir, ketua!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar