Jumat, 26 Juli 2019

Tuhan, Isyarat, dan Autumn

Tulisan dari blog lama saya: ketikakuberkata.blogspot.com yang sudah saya hapus dan kemudian alamat blognya dipakai orang :(
08/19/14--23:21

Tuhan, Isyarat, dan Autumn


Ini bukan tentang betapa mudahnya melupakan seseorang dan kemudian menemukan penggantinya.

Ini bukan tentang seberapa kuat kamu memegang teguh prinsip.

Ini bukan tentang betapa berartinya seseorang itu bagimu.

Ini tentang masa depan.

Kamu tahu kenangan, ingatan, atau memori? Sesuatu yang selalu mendiami otakmu berulang kali. Ia seringkali terganti namun kemudian datang lagi. Ia menghujanimu dengan berbagai kejadian yang bahkan mungkin sudah kamu anggap pergi. Ia melambatkan langkahmu untuk bergerak kembali. Mungkin seperti itu, pada umumnya.

Dan Tuhan memberikan kita semua kemampuan untuk itu. Saya tak tahu apa maksud eksplisitnya. Yang saya tahu hanyalah, kenangan bisa menjamin keberlangsungan hidup saat sedang sekarat. Dan bisa jadi malah membinasakan dengan cabikan-cabikan tanpa belas kasihan yang dihadirkannya. Ah, gampangnya, memori ada untuk membuat kita merasa.

Saya bukan seseorang yang mudah melupakan kenangan. Mungkin saya mayoritas. Apapun itu. Saya masih ingat benar bagaimana ibu menangis pilu saat menyaksikan kakek meninggal dunia. Pun begitu saat ibu menangis histeris sambil mengharap agar bapak tidak pergi dari rumah. Atau bahkan bagaimana berkaca-kacanya mata sayu bapak ketika menyaksikan putri satu-satunya menikah. Sedih dan bahagia. Yang jelas semuanya membuat saya merasa. Dan lebih jelasnya lagi, memori-memori yang seperti ini tak mudah pergi.

Kebesaran Tuhan. 

Kebesaran Tuhan dengan segala yang Ia punya. Ia telah memberi kita memori yang mengalahkan kemampuan prosesor berkekuatan 8 inti ataupun berjuta-juta inti sekalipun. Semua tersimpan dengan rapi di otak-dan mungkin di hati. Otak saya kecil, namun mungkin sekat-sekatnya telah memisahkan memori-memori mana yang pantas diulang (diingat) dan mana yang tidak. Tapi sekali lagi memori ada untuk membuat kita merasa.

Dan saya merasa cinta melalui memori-memori itu. Memori yang selalu mendiami otak berulang kali. Memori yang seringkali terganti namun kemudian datang lagi. Memori yang menghujani dengan berbagai kejadian yang bahkan mungkin sudah kamu anggap pergi. Memori yang melambatkan langkahmu untuk bergerak kembali. 

Alam-atau lebih tepatnya Tuhan selalu mempunyai isyarat kepada siapapun, yang tidak percaya kepada-Nya sekalipun. Termasuk tentang cinta. Bisa jadi memori-memori yang kamu miliki dan tersimpan rapi adalah isyarat yang sengaja disampaikan. Bisa jadi kenangan-kenangan yang selalu dilagukan adalah isyarat yang sedikit demi sedikit diungkapkan. Bisa jadi semuanya yang dirasakan adalah isyarat yang menuntun dan menemukan jalan. 

Isyarat-isyarat ini mengumpul menjadi satu. Satu molekul. Satu molekul yang siap menghujani. Mirip awan yang bisa saja sedetik kemudian menjadi hujan dan membuat segala yang berada di bawahnya basah. Tapi kadang awan butuh waktu yang lama untuk menjadi hujan. Bahkan kadang awan berubah  menjadi hujan namun sengaja ditangguhkan. Isyarat itu seperti itu. 

Saya tidak mengharapkan Autumn cepat datang. Saya merasakan isyarat yang demikian. Saya merasakan setelah dihinggapi memori yang berdatangan. Mereka berputar-putar kemudian pergi. Berputar-putar, pergi, namun kembali lagi. Inilah isyarat. Alam-atau Tuhan mengisyaratkan saya untuk perlahan-lahan, tidak gegabah, dan sementara mengunci diri. Bukan apa-apa, tapi apa-apa untuk masa depan. Jika sebagian orang menyebutnya memantaskan diri, saya lebih suka menyebutnya ambil bagian dalam seleksi. Dunia ini penuh seleksi. Pun demikian dengan masa depan. Saya harus menjadi yang terbaik dulu bagi diri saya sendiri sembari menanti isyarat yang lain dari alam-atau Tuhan yang akan kembali datang. Bukan saya ketakutan di bawah bayang-bayang kenangan. Saya hanya berlindung sejenak di dalam kesendirian. Dan tak ada yang salah dengan sendirian.

Sedikit tentang sendiri dan sepi. Sendiri dan sepi itu sebenarnya tak berkolerasi. Itu semua tergantung bagaimana cara menyikapi. Apakah kamu memutuskan untuk menyepi dalam kesendirian atau memutuskan sendiri dalam membuang kesepian.





-Mari berseleksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar