Senin, 29 Januari 2018

kata-kata sang pemuja dini hari

dahulu aku memuja dini hari: satu waktu penanda pergantian misi. aku selalu menunggunya sebelum melepaskan isi otak dan helai hati dengan satu alasan: karena dini hari adalah masa yang sepi, meski hitam.

sekarang. bertahun-tahun semenjak aku memujanya, aku meninggalkannya. dini hari tak lagi sepi. sayup-sayup masih terdengar suara gelak tawa, isak tangis, bahkan hingar bingar sekumpulan manusia dari ranjangku. iya, mereka mengalahkan lolongan serigala hutan. urakan.

lalu aku mencari penggantinya. subuh? terik? atau mungkin yang sedang sangat terkenal: senja? aku tidak begitu suka karena di waktu itu otak dan hatiku masih sibuk membedakan mana-mana yang harus didahulukan. 

dan sekelebat bayangan yang tiba-tiba muncul saat aku sibuk memutar otak mengisyaratkan bahwa ternyata semua sama saja. usia mempengaruhi sisi idealisme seseorang. pengalaman menyarankan kita tidak banyak alasan. sampai pada kesimpulan bahwa 0 sampai dengan 24 itu sama saja.

tergantung aku mau berdiri, duduk, atau berbaring di sebelah mana.

dan aku sekarang tahu waktu.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar