gadis itu berlari melawan hujan. jemarinya menggenggam erat pecahan kaca dari gelas berisi anggur merah yang ia banting beberapa saat yng lalu. matanya tak menunjukkan kesedihan. pun begitu dengan hatinya: tegar melawan.
sementara itu, beberapa orang berpayung hitam tertawa melihatnya. tatapan mereka tajam. setajam pecahan gelas yang masih digenggam gadis melawan hujan tadi.
gadis itu tak peduli. dilewatinya satu persatu orang-orang yang menatapnya tajam. mata gadis itu hanya tertuju satu hal: cinta.
cintanya kandas. cintanya hilang. cintanya berserakan. cintanya hanyalah sebatas beling-beling gelas yang dibantingnya. sementara lukanya masih ada, itupun tak termasuk luka menganga di jemari lentiknya. luka itu lebih menganga meski tak terlihat. luka di hatinya.
ia yakin. ia percaya bahwa tuhan maha adil. ia suka mendapat luka demi mengembalikan cinta. maka ia tak perduli. ia terus berlari. tatapannya masih sama: cinta.
sedetik kemudian ia terjatuh. ia lupa bahwa rinai hujan membuat jalanan licin. kali ini dengkulnya berdarah. tak sekejap pun ia melihatnya. dan seketika hujan berhenti.
kali ini ia menangis. ia histeris dengan diiringi raungan sirine ambulan yang sedari tadi mengejar. beberapa petugas dan suster berlari ke arahnya. mereka menangkapnya dengan bengis. wajah iba gadis melawan hujan tak mampu meluluhkan mereka.
tidak. ia tidak gila seperti yang engkau kira.
ia hanya butuh cinta.
dan memang, kadang cinta adalah obat terbaik bagi sebagian orang.
"pelan-pelan, aku yakin kamu akan dicintai..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar